Mengurangi Potensi dan Dampak Kecelakaan Kerja (K3)

Related image

Untuk mengurangi bahkan mengendalikan ada dampak negatif pada kerugian-kerugian yang disebabkan kecelakaan kerja maka dalam hal semacam ini diperlukan usaha secara tehnik atau rekayasa (Suma’mur, 1996) diantaranya :

a. Ketentuan Perundangan

Yakni ketetapan yang diharuskan tentang beberapa keadaan kerja dengan cara biasanya, rencana, konstruksi, perawatan dan pemeliharaan, pengawasan dan cara kerja perlengkapan industri, beberapa pekerjaan entrepreneur dan buruh, latihan dan supervisi medis, P3K dan kontrol kesehatan.

b. Standarisasi

Yakni penetapan beberapa standard resmi atau tidak resmi tentang misalnya konstruksi yang penuhi kriteria keselamatan beberapa jenis perlengkapan industri tertentu, beberapa praktik keselamatan dan higiene umum, atau alat-alat pelindung diri sepeti sepatu safety.

c. Pengawasan

Yakni pengawasan mengenai dipatuhinya bebrapa ketetapan perundangundangan yang diharuskan.

d. Riset berbentuk tehnik

Yakni mencakup karakter dan tanda-tanda bahan yang beresiko, penyelidikan mengenai pagar pengaman, pengujian alat-alat pelindung diri, riset mengenai mencegah peledakan gas dan debu.

e. Penelitian medis

Yang mencakup terlebih riset mengenai efek-efek fisiologis dan patologis, beberapa aspek lingkungan dan teknologis, dan beberapa kondisi fisik yang menyebabkan kecelakaan.

f. Riset psikoligis

Yakni riset mengenai pola-pola kejiwaan yang mengakibatkan terjadinya kecelakaan.

g. Riset dengan cara statistik

Untuk mengambil keputusan beberapa jenis kecelakaan kerja yang terjadi, banyak, tentang siapapun, dalam pekerjaan apa, dan apa sebab-sebabnya.

h. Pendidikan

Yang menyangkut pendidikan keselamatan dan kurikulum tehnik, sekolahsekolah perniagaan atau bebrapa pelatihan pertukangan.

i. Latihan-latihan Yakni latihan praktek untuk tenaga kerja, terutama tenga kerja yang baru dalam keselamatan kerja.

j. Penggairahan Yakni pemakaian bermacam cara penyuluhan atau pendekatan lain untuk menyebabkan sikap untuk selamat.

k. Asuransi Yakni insentif finansial untuk tingkatkan mencegah kecelakaan misalnya berbentuk pengurangan premi yang dibayar oleh perusahaan, bila tindakantindakan keselamatan sangat baik.

PENANGANAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA

Related imageSetiap kegiatan penangnan Bahan Kimia Berbahaya didalamnya pastinya terdapat resiko bahaya potensial yang setiap saat dapat menyebabkan dampak kerugian yang serius. Baik dari sisi materi, moril dan social bila tidak diakukan secara serius sesuai dengan prosedur K3. Karenanya dilihat memerlukan aplikasi K3 yang perlu dikerjakan dengan cermat dan terpadu oleh Unit-unit kerja yang ikut serta segera dalam penangnanan Bahan Kimia Beresiko ditempat kerja. Aplikasi K3 yang disebut yaitu mencakup : Rencana, Proses, Perbaikan/Pembinaan dan Penanggulangan yang berbentuk darurat (emergency). Maksud dan maksudnya yaitu :

  1. Mencegah/menghimpit sekecil mungkin terjadinya beberapa hal yg tidak dikehendaki seperti Kebakaran, Keracunan, Peledakan, Penyakit akibat Kerja dan beberapa hal lain yang bisa merugikan Perusahaan, Karyawan, Orang-orang dan Lingkungan.
  2. Meningkatkan kualitas Suber Daya Manusia atau Pekerja di bagian K3 terutama untuk pekerja yang segera ikut serta dalam perlakuan segera pada Bahan Kimia Beresiko itu.

Karenanya perlu sangkanya di buat Standarisasi K3 manfaat untuk dipahami dan dikerjakan dengan cara sungguh-sungguh oleh semua Pekerja yang berkaitan dalam setiap bagian aktivitas perlakuan Bahan Kimia Beresiko seperti berikut :

A. PROSES PENGADAAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA

Panduan Proses K3 :

1. Setiap pembelian/pengadaan bahan kimia beresiko harus tercantum dengan terang didalam lebar PP/PO mengenai kelengkapan info bahan berbentuk :

a. Labeling

b. Info efek Bahaya

c. Info P3K, APD

2. Spesifikasi mutu paket/wadah harus tercatat dengan terang dalam lembaran PP/PO dengan memerhatikan Keamanan, Ketahan, Efektifitas dan Efisiensi. Khusus dalam soal Botol/Bejana Bertekanan, harus tercantum WARNA yang sesuai dengan type/kelompok Gas. Dalam hal semacam ini dapat berdasar pada Standar Internasional ” Global Serasi Syetem/GHS atau NFPA, UN, UMO, EEC dlsb).

3. Setiap wadah Bahan Kimia Beresiko harus diperlengkapi dengan TANDA RESIKO BAHAYA dan aksi Mencegah dan Penanggulangannya.

4. User/Petinggi yang ajukan pembelian Bahan Kimia Beresiko berkewajiban lengkapi kriteria K3. Apabila spesifikasi dan prasyarat K3 yang disebut telah cukup komplit dan penuhi standar K3, maka mengajukan pembelian dapat diolah dan direalisasikan pengadaannya.

B. BONGKAR MUAT BAHAN KIMIA BERBAHAYA

Panduan Proses K3 :

1. Sebelum melakukan aktivitas bongkar muat Bahan Kimia Beresiko, Pengawas setempat harus mempersiapkan kelengkapan administrasi seperti berikut :

a. Daftar bahan yang akan dibongkar

b. Prosedur kerja dan Perijinan

c. Daftar pekerja/buruh dan penanggung jawab

2. Perencanaan dan bebrapa aksi K3 harus dikerjakan sebaik-baiknya sebelumnya dan setelah mwelaksanakan bongkar muat.

3. Yakinkan kalau beberapa pekerja sudah tahu bahaya-bahaya yang ada dan beberapa cara mencegah dan penanggulangannya lewat cara memberi Pengarahan dan penyuluhan K3 oleh pengawas setempat, terlebih untuk beberapa pekerja baru.

4. Sarana pelindung Diri, Alat Pemadam yang sesuai dan peralatan P3K harus disediakan seperlunya dan dipakai sebagai mana harusnya.

5. Pengawas buruh berkewajiban memberi pembinaan perbaikan pada setiap pekerja apabila tahu atau menjumpai ada penyimpangan/pelanggaran ketentuan K3 yang sudah diberlakukan.

6. Pemasangan Rambu-rambu K3 mencakup Peringatan bahaya sesuai type, kelompok Bahan Kimia harus dipasang dengan terang, mudah di baca, dipahami dan terlihat oleh pekerja.

7. Setiap pekerja harus hindari perbuatan/aksi yg tidak aman seperti :

a. Merokok di tempat yg terlarang

b. Tidak memakai APD yang disyaratkan

c. Mngerjakan pekerjaan yang bukanlah wewenang/di bagiannya

d. Bersendau gurau 5. Menolak perintah atasan dlsb.

8. Setiap kecelakaan, Kebakaran, Peledakan termasuk keadaan beresiko yang mustahil dapat diatasi sendiri, sebaiknya dilaporkan secepat-cepatnya pada atasan. Berikanlah info yang benar pada petugas Investigasi manfaat mempermudah pengambilan beberapa langkah perbaikan setelah itu agar masalah yang sama tidak terulang kembali

9. P3K harus dilakukan dengan benar oleh yang memiliki pengalaman pada pekerja yang alami kecelakaan. Selekasnya hubungi Dokter atau tim medis manfaat perawatan setelah itu.

C. PENYIMPANAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA

Panduan Proses K3 :

1. Gudang area untuk menyimpan Bahan Kimia Beresiko harus di buat sedemikian rupa sampai aman dari dampak Alam dan Lingkungan sekitarnya :

a. Memiliki sistem aliran hawa dan ventilasi yang cukup baik.

b. Suhu didalam ruangan dapat terbangun konstan dan aman setiap waktu.

c. Aman dari beragam masalah biologis (Tikus, Rayap dan lain-lain).

2. Tata letak dan penyusunan peletakan bahan harus memperhitungkan beberapa hal seperti berikut :

a. Pemisahan dan pengelompokan untuk hindari ada bahaya reaktivitas.

b. Penyusunan agar tidak melebihi batas maksimum yang disarankan manufactur untuk hindari rubuh (ambruk) sampai tidak menyebabkan rusaknya dan mudah pembongkaran dan terlihat rapi.

c. Lorong agar tetaplah terbangun dan tidak terhambat oleh benda apa pun, bila perlu buatkan garis pembatas lintasan alat angkat dan angkut.

d. Khusus bahan dalam wadah silinder/tabung gas bertekanan agar diletakkan pada tempat yang teduh, tidak lembab dan aman dari sumber panas seperti (listrik, api terbuka dan lain-lain).

3. Program House Keeping harus dikerjakan dengan cara periodic dan berkaitan yang mencakup : Kebersihan, Kerapihan dan Keselamatan.

4. Sarana K3 sebaiknya disediakan dan dipakai seperti harusnya.

5. Seiap pekerja yg tidak mempunyai urusan dilarang masuk gudang penyimpanan Bahan Kimia Beresiko dan setiap pekerja yang masuk gudang harus memakai APD yang disyaratkan.

6. Inspeksi K3 oleh pekerja gudang harus dikerjakan dengan teratur/periodic yang mencakup kontrol semua keadaan lingkungan, bahan, perlengkapan dan sistem. Selekasnya amankan/laporkan bila temukan keadaan tidak aman pada atasan.

7. Pada setiap penyimpanan Bahan Kimia Beresiko harus diperlengkapi dengan LABELING (Label isi, safety, kemungkinan bahaya) bersama uraian singkat Mencegah, Penanggulangan dan Petolongan Pertama.

8. Petugas gudang harus diperlengkapi buku panduan/dasar K3 yang terkait dengan Penyimpanan BKB.

9. Setiap Pekerja dilarang makan dan minum di tempat penyimpanan Bahan Kimia Beracun.

10. Tindakan P3K harus dilakukan oleh yang memiliki pengalaman. Selekasnya hubungi dokter/tim medis atau bawa korban ke Tempat tinggal Sakit untuk mendapatka perawatan selanjutnya.

D. PENGANGKUTAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA

Panduan Pelaksanaan K3 :

1. Sebelum melakukan pekerjaaan pengangkutan Bahan Kimia Beresiko, Pengawas/atasan berkewajiban mengemukakan info K3 dan kemungkinan bahaya yang ada pada setiap pekerja.

2. Hanya pekerja yang telah tahu pekerjaan dan tanggung jawab dan ada referensi dari atasannya dibenerkan mengatasi pekerjaan pengangkutan Bahan Kimia Beresiko.

3. Upaya prefentif, Mencegah harus tetaplah dilakukan dengan teratur berbentuk kontrol kelayakan perlengkapan kerja, keadaan muatan dan keadaan fisik pekerja sebelumnya melakukan pekerjaan itu.

4. Menaikkan dan turunkan Bahan Kimia Beresiko harus dilakukan dengan hati-hati, bila perlu buatkan bantalan karet/kayu.

5. Perlengkapan K3 (APD, APAR, P3K) harus ada dalam keadaan siap gunakan di tempat kerja.

6. Kapasitas angkut alat angkat dan angkut tidak diijinkan melebihi kemampuan yang ada dan tidak bisa menghambat pandangan penegmudi/sopir.

7. Pengemudi harus ikuti ketentuan jalan raya yang ada dengan selalu hati-hati dan siaga. Jauhi aksi tidak aman dan tetaplah disiplin dalam mengemudikan kendaraan.

8. Jika kontak dengan Bahan Kimia Beresiko, selekasnya kerjakan pertolongan pertama pada si korban dengan benar. Hubungi dokter/tim medis untuk perlakuan setelah itu.

9. Tanda labeling peringatan bahaya berbentuk tulisan, kode sesuai sama kemungkinan bahaya yang ada harus terpasang dengan terang di depan muatan, samping kiri dan kanan, belakang muatan.

E. PENGGUNAAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA

Petunjuk Pelaksanaan K3 :

1. Sebelumnya memakai Bahan Kimia Beresiko harus di ketahui terlebih dulu info bahayanya baik dari sisi Kebakaran, Kesehatan, Rekatifitas, Keracunan, Korosif dan Peledakan) dan beberapa cara mencegah dan penanggulangannya.

2. Rencana dan aplikasi K3 harus dilakukan dengan sebaik-baiknya pada setiap pekerjaan pemakaian Bahan Kimia Beresiko dengan memerhatikan beberapa hal seperti berikut :

a. APD (Alat Pelindung Diri) seperti pakaian keselamatan, sepatu safety dll yang sesuai sama factor kemungkinan bahayanya, APAR dan P3K harus disediakan seperlunya dan dipakai sebagai mana harusnya.

b. Kondisi kerja, lingkungan telah dinyatakan aman oleh pihak yang berwenang (Safety).

c. Peralatan kerja harus layak gunakan.

d. Methode kerja/cara proses kerja telah aman dan efisien.

e. Kelengkapan administrasi telah disiapkan (perijinan angkut, perintah kerja, daftar pekerja dll).

3. Selama berlangsungnya aktivitas pemakaian Bahan Kimia Beresiko jauhi aksi yg tidak aman. Upayakan bekerja sesuai sama SOP.

4. Apabila pekerjaan itu belum usai dan pengerjaannya ditata dengan cara shift maka, setiap serah terima pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Kondisi dan keadaan kerja menyeluruh harus dilaporkan dengan terang terlebih keadaan kerja yang kurang aman dan perlu perlakuan yang intensif.

5. Apabila pekerjaan sudah usai, amankan dan bersihkan alat-alat kerja, lingkungan kerja, wadah sisa-sisa bahan dll agar selekasnya dibersihkan sampai benar-benar keadaan keseluruhnya telah aman.

6. Kerjakan aksi P3K dengan selekasnya bila terjadi kecelakaan hubungi tim medis/dokter untuk perlakuan selanjutnya.

F. PEMBUANGAN LIMBAH B3

Manfaat mensupport usaha dalam membuat lingkungan yang bebas dari polusi, polutan dari limbah Bahan Kimia Beresiko, di mana limbah itu diusahakan akan tidak merugikan orang-orang luas. Maka panduan pembuangan limbah berikut ini harus di ketahui dan dikerjakan seperti harusnya oleh semua pekerja :

Panduan Proses K3 :

1. Setiap limbah baik itu karena rusak, purging, kadaluarsa, ataupun sisa hasil sistem yg tidak dipakai lagi harus dibuang pada saluran khusus yang sudah disediakan karenanya.

2. Bila limbah Bahan Kimia itu ASAM dan BASA yang beresiko harus dinetralkan terlebih dulu sebelumnya dibuang, sedang untuk beberapa zat logam beresiko harus diendapkan dulu sampai buangan benar-benar aman tidak melebihi NAB.

3. Limbah berbentuk hasil sisa GAS yang mudah terbakar dalam jumlah besar harus dibakar lewat cara yang teratasi dilakukan di Buningpit.

4. Semua wadah/paket sisa Bahan Kimia Beresiko harus dibakar/ditanam sesuai panduan petinggi yang berwenang karenanya.

5. Buang limbah beresiko lewat cara manual harus memakai APD yang sesuai. Hati-hati pada bahaya percikan, jatuh, terpeleset, tersiram dlsb.

FAKTOR PENILAIAN KESEHATAN, DAN KESELAMATAN KERJA

Related image

Bagaimana penilaian K3, berikut 5 Faktor Penilaian Kesehatan, dan Keselamatan Kerja :

  1. Keselamatan kerja yaitu sarana utama untuk mencegah kecelakaan, cacat dan kematian sebagai akibat kecelakaan kerja. Keselamatan kerja yang baik yaitu pintu gerbang untuk keamanan tenaga kerja.
  2. Analisis kecelakaan secara nasional berdasarkan angka-angka yang masuk atas dasar harus lapor kecelakaan dan data kompensasinya saat ini seakan-akan inancia rendah dibanding banyak jam kerja tenaga kerja
  3. Potensi-potensi bahaya yang meneror keselamatan pada beragam sector aktivitas ekonomi terang dapat diobservasikan, misalnya inanc industri dibarengi bahaya-bahaya mungkin seperti keracunan-keracunan bahan kimia, kecelakaan-kecelakaan oleh karena mesin, kebakaran, ledakan-ledakan, dan lain-lain
  4. Menurut observasi, angka frekuensi untuk kecelakaan-kecelakaan enteng yg tidak mengakibatkan hilangnya hari kerja namun hanya jam kerja masihlah terlalu tinggi.
  5. Analisis kecelakaan memerlihatkan kalau untuk setiap kecelakaan ada inanc pemicunya. Sebab-sebab itu bersumber pada alat-alat mekanik dan lingkungan dan pada manusianya sendiri. Sejumlah 85 persen dari sebab-sebab kecelakaan yaitu inanc manusia.

Konsep dasar tentang keselamatan dan kesehatan kerja :

Dua hal terbesar sebagai penyebab kecelakaan kerja yakni : perilaku yg tidak aman dan keadaan lingkungan yg tidak aman, berdasarkan data dari Biro Pelatihan Tenaga Kerja, penyebab kecelakaan yang pernah terjadi hingga saat ini yaitu disebabkan oleh perilaku yg tidak aman seperti berikut :

  1. sembrono dan tidak hati – hati
  2. tidak mematuhi ketentuan
  3. tidak ikuti standard prosedur kerja.
  4. tidak memakai alat pelindung diri seperti sepatu safety dll
  5. kondisi tubuh yang lemah

Persentase penyebab kecelakaan kerja yakni 3% karena sebab yg tidak dapat dihindarkan (seperti bencana alam) , diluar itu 24% karena lingkungan atau perlengkapan yg tidak penuhi prasyarat, dan 73% karena tingkah laku yg tidak aman.

Cara Atasi Kecelakaan Kerja di Lokasi Kerja

Gambar terkait

Kemungkinan kecelakaan kerja dapat terjadi setiap saat. Maka kesadaran tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja jadi sangat diperlukan. Pastinya tidak seseorang pun yang ingin celaka. Namun kemungkinan kecelakaan dapat terjadi setiap saat dan dimanapun termasuk di linkungan tempat kerja. Dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yg sering disingkat K3 jadi salah satu ketentuan pemerintah yang menanggung keselamatan dan kesehatan kita dalam bekerja.

Tetapi pada akhirnya muncul pertanyaan apakah kecelakaan kerja yang merugikan itu dapat dihindari? Pada prinsipnya setiap kecelakaan kerja dapat diupayakan untuk dihindari karena, Pertama, Setiap kecelakaan tentu ada penyebabnya, dan Ke-2 Bilamana sebab-sebab kecelakaan itu dapat kita menghilangkan maka kecelakaan dapat dihindari. Lalu bagaimana langkahnya menangani lingkungan kerja tidak aman? Berikut langkah langkah untuk mengatasinya.

  1. Di hilangkan, sumber-sumber bahaya atau kondisi tidak aman itu agar tak akan menyebabkan bahaya, misalnya alat-alat yang rusak ditukar atau diperbaiki.
  2. Dieleminir/diisolir, sumber bahaya tetap masih ada, namun diisolasi agar tak akan menyebabkan bahaya, misalnya bagian-bagian yang berputar pada mesin di beri tutup/pelindung atau sediakan alat-alat keselamatan kerja.
  3. Dikendalikan, sumber bahaya tidak aman dikendalikan dengan cara tehnis, misalnya menempatkan safety valve pada bejana-bejana desakan tinggi, menempatkan alat-alat control dll.

Untuk tahu ada unsafe condition harus dilakukan pengawasan yang cermat pada lingkungan kerja.

Pertama Pakaian Pengaman dan berikut kriteria baju perlindungan atau pengamanan.

  1. Pakaian kerja harus dapat melindungi pekerja pada bahaya yang mungkin ada.
  2. Pakaian kerja harus seragam mungkin serta ketidaknyamanannya harus yang paling minim.
  3. Bila bentuknya tidak menarik, paling tidak harus dapat di terima.
  4. Pakaian kerja harus tidak menyebabkan bahaya lain, misalnya lengan yang terlalu terlepas atau ada kain yang terlepas yang kemungkinan besar termakan mesin.
  5. Bahan bajunya harus memiliki derajat resistensi yang cukup untuk panas dan suhu kain sintesis (nilon, dan lain-lain) yang bisa meleleh oleh suhu tinggi semestinya tidak digunakan.
  6. Pakaian kerja harus didesain untuk hindari partikelpartikel panas berkaitan di celana, masuk di kantong atau terselip di lipatan-lipatan pakaian.
  7. Overall katun penuhi semua kriteria yang dijelaskan diatas dan karena itu overall katun yaitu yang paling banyak dipakai sebagai pakaian kerja.
  8. Dasi, cincin dan arloji adalah beberapa barang yang memiliki besar kemungkinan menyebabkan bahaya karena mereka itu dapat dikonsumsi mesin, dan akan mengakibatkan kecelakaan bila beberapa pekerja tetaplah memakainya. Arloji dan cincin memberi permasalahan pada bahan kimia dan panas dengan berhenti menyingkirkan bahaya.
    **

Lalu hal apa sajakah yang perlu di perhatikan dalam memakai baju kerja?

  1. Gunakan baju yang tahan pada api, tertutup rapat, dan berkancingkan.
  2. Gunakan katun atau wol dsb manfaat hindari bahan buatan yang mudah terbakar baik pakaian atas ataupun pakaian bawah.
  3. Pakaian yang longgar dan tidak berkancing atau t-shirt atau p memakai dasi, sabuk bisa dengan mudah mengait putaran mesin.
  4. Kancing harus ditutupi bahan penutup untuk menghindar rusaknya permukaan ketika bekerja diatas tonggak atau penyangga dsb.

PAKAIAN KERJA

Pilihlah baju kerja yang kuat dan betul–betul pas hingga merasa suka dalam pekerjaan. Jauhi baju dengan ikat pinggang, gesper dan kancing yang menonjol yang bisa mengakibatkan rusaknya pada kendaraaan pada saat bekerja.
Sebagai aksi keamanan pada luka atau terbakar, kulit harus selalu tertutup, terkecuali sangat terpaksa benar.
Jaga baju Kamu agar selalu bersih waktu bekerja, sebab oli dan kotoran pada baju Kamu akan mengotori kendaraan

SEPATU KERJA

Pililah alas kaki yang kuat untuk bekerja. Yaitu beresiko memakai sandal atau alas kaki yang mudah tergelincir dan karena itu janganlah digunakan. Sandal dan semacamnya lebih sangat mungkin penggunaanya terluka karena kejatuhan benda. Disarankan memakai sepatu safety boot atau sepatu yang memiliki sol yg tidak licin dan berkulit keras.

SARUNG TANGAN

Pada saat mengangkat benda – benda berat atau memindahkan pipa buang yang panas dan semacamnya disarankan memakai sarung tangan, meskipun tak ada suatu ketentuan khusus yang mengatur cara penggunaannya untuk pekerjaan pemeliharaan umum.

Terlebih pada saat mengebor dan menggerinda dan pekerjaan di kamar mesin dengan mesin hidup, sangat mungkin munculnya bahaya tersangkutnya sarung tangan di bagian yang berputar. Karenanya dalam soal seperti ini sarung tangan janganlah digunakan.

Alat-alat pelindung anggota tubuh

Tubuh kita terbagi dalam bagian-bagian, semua itu harus terlindung diwaktu melakukan pekerjaan. Alat-alat pelindung bagian yaitu sebagai berikut :

Alat pelindung mata

Mata harus terlindung dari panas, cahaya yang menyilaukan serta dari debu.

Alat pelindung kepala

Topi atau helm yaitu alat pelindung kepala apabila bekerja di bagian yang berputar, misalnya bor atau waktu tengah mengelas, hal semacam ini untuk melindungi rambut terlilit oleh putaran bor atau rambut terserang percikan api.

Alat pelindung telinga

Membuat perlindungan telinga dari gemuruhnya mesin yang sangat bising juga penahan bising dari letupan-letupan.

Alat pelindung hidung

Yaitu alat pelindung hidung dari peluang terhisapnya gas-gas beracun.

Alat pelindung tangan

Alat ini terbuat dari beragam jenis bahan sesuai dengan kebutuhannya, diantaranya :

  1. Sarung tangan kain, dipakai untuk menguatkan pegangan agar tidak meleset.
  2. Sarung tangan asbes, dipakai terlebih untuk melindungin tangan pada bahaya panas.
  3. Sarung tangan kulit, dipakai membuat perlindungan tangan dari benda-benda tajam ketika mengangkat suatu barang.
  4. Sarung tangan karet, dipakai pada saat pekerjaan pelapisan logam, seperti vernikel, vercrhoom dll. Hal semacam ini untuk menghindar tangan dari bahaya pembakaran asam atau kepedasan cairan.

Alat pelindung kaki

Untuk hindari tusukan benda tajam atau terbakar oleh zat kimia. Terdapat dua type sepatu yakni pengaman yang memiliki bentuk seperti sepatu keselamatan umum hanya di bagian ujungnya dilapis dengan baja dan sepatu karet dipakai untuk mencapai permukaan yang licin, hingga pekerja tidak terpeleset dan jatuh.

Alat pelindung tubuh

Alat ini terbuat dari kulit hingga sangat mungkin baju umum atau tubuh terlepas dari percikan api, terlebih pada saat menempa dan mengelas. Lengan pakaian janganlah digulung, sebab lengan pakaian yang panjang akan membuat perlindungan tangan dari cahaya api.

Tips Pencegahan Kecelakaan Kerja

Cara Menghindari Kecelakaan KerjaBeberapa praktek yang paling membantu untuk mencegah dan menghindari kecelakaan kerja meliputi menghilangkan shortcut, melaksanakan latihan darurat, dan mengerti resiko pekerjaan yang melekat. Kamu dan karyawan Kamu harus tetaplah siaga terhadap setiap potensi penyebab kecelakaan. Menulis dasar keselamatan dan partisipasi bulat dalam program keselamatan dapat bikin perbedaan besar dalam menghilangkan kecelakaan kerja.

1. Menghilangkan Shortcut

Pintas dapat sangat menggoda, terlebih ketika Kamu berada di batas waktu. Ketika akhir hari atau minggu mendekati, karyawan mungkin ingin memperoleh pekerjaan lebih dengan secepat-cepatnya hingga mereka dapat merampungkan dan pulang. Itu dapat dipahami, namun cara pintas berkembang biak bahaya dan adalah penyebabnya utama kecelakaan.

Alih-alih membiarkan karyawan untuk mengambil jalan pintas, pastikan mereka ikuti panduan keselamatan dan memperoleh pekerjaan yang dilakukan dengan benar. Bila pekerjaan tertentu mungkin akan tidak usai sebelumnya akhir hari, itu lebih baik untuk merampungkannya besok atau minggu depan dari pada tergesa-gesa pekerjaan dan punya potensi mengakibatkan cedera. Ingatkan karyawan Kamu kalau tak ada yang akan mengakibatkan kerusakan gagasan akhir minggu mereka seperti perjalanan ke tempat tinggal sakit! Pastikan karyawan Kamu merasa nyaman dengan prosedur yang didapatkan sebelumnya mereka mulai mengaplikasikannya.

2. Melakukan Darurat Latihan – Dan Perlu Partisipasi

Latihan darurat meyakinkan kalau bila terjadi kondisi darurat, karyawan tahu apa yang perlu dilakukan dan dapat ikuti gagasan darurat tanpa ada ketidakpastian atau kebingungan. Memiliki latihan darurat berkala hingga karyawan tahu apa yang perlu dilakukan dalam kondisi darurat – misalnya, bila ada api, Kamu ingin kebanyakan orang dengan cara automatis file keluar dengan teratur dan Kamu ingin mereka ketahui dimana pintu keluar paling dekat yaitu. Pastikan semua karyawan Kamu memerhatikan dan berperan serta dalam latihan darurat, dan mengerjakannya sendiri. Mereka yg tidak memerhatikan atau berperan serta dalam latihan darurat yaitu mereka yang akan di paling bahaya harus kondisi darurat betul-betul terjadi.

3. Jadilah Sadar dan Disiapkan untuk Resiko Inherent

Setiap pekerjaan memiliki resiko yang menempel. Bahkan juga pekerja kantor memiliki resiko carpal tunnel syndrome dari mengetik terlalu banyak dan sakit kepala, kelelahan mata, atau leher dan nyeri kembali dari membungkukkan atas meja computer. Setiap karyawan harus mengerti resiko yang berkaitan dengan pekerjaan yang berhubungan dengan pekerjaan, dan harus tahu apa yang perlu dilakukan untuk meminimalisir resiko itu. Ketika Kamu mengambil keputusan pekerjaan baru pada karyawan, menerangkan resiko yang menempel dan apa yang bisa dilakukan untuk meminimalisir mereka. Setiap pekerja diwajibkan menggunakan alat pelindung seperti pakaian dan sepatu safety.

4. Jauhkan Your Eyes Kupas untuk Penyebab Potensi Kecelakaan

Bila Kamu lihat kecelakaan yang menanti untuk terjadi ditempat kerja, bukan sekedar duduk dan menanti – melakukan suatu hal mengenai hal semacam itu sebelumnya itu terjadi. Itu bermakna melakukan perbaikan daerah yg tidak aman, namun juga bermakna menyampaikan suatu hal pada karyawan yang ikut serta dalam praktik kerja yg tidak aman.

Karena Kamu tidak dapat berada dimana sekaligus, mendorong karyawan Kamu untuk menyampaikan suatu hal pada Kamu bila mereka lihat karyawan lain melakukan suatu hal yg tidak aman. Bikin system pelaporan anonim hingga orang lebih condong untuk memakainya. Atau, menunjuk beberapa karyawan untuk tim keamanan yang bisa menolong Kamu mengawasi keluar untuk praktik kerja yg tidak aman.

5. Dasar Keselamatan Pos dan Memerlukan Partisipasi Bulat dalam Program Keselamatan

Menulis dasar keselamatan di sekitar jaminan kerja menolong melindungi pekerja mengerti praktek keselamatan paling baik. Pastikan tips keselamatan sangat terlihat dan mudah di baca. Mengaplikasikan program keselamatan kerja – dan meyakinkan kalau setiap orang berperan serta di dalamnya, termasuk Kamu. Karyawan akan tidak suka disuruh untuk berperan serta dalam program yg tidak termasuk majikan mereka, juga, dan keselamatan hanya sejumlah kecemasan Kamu karena mereka, juga.

Terkadang kecelakaan kerja yg tidak dapat dihindari, namun sebagian besar waktu Kamu dapat membuat perlindungan karyawan Kamu, bisnis Kamu, dan diri Kamu dari kecelakaan yang bisa menyebabkan tragedi. Bikin keselamatan kerja prioritas, hingga Kamu dan karyawan Kamu dapat nikmati semua th. kenikmatan kerja, produktivitas, dan kesehatan yang baik.

PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD atau PPE) PADA PARA PEKERJA

Image result for ALAT PELINDUNG DIRI

Ada beberapa metoda yang bisa dilakukan dalam mengendalikan bahaya ditempat kerja untuk menurunkan tingkat kecelakaan akibat kerja, yakni :

  1. Engineering control, yakni dengan memberikan beragam perlengkapan dan mesin yang bisa kurangi bahaya dari sumbernya. Misalnya yaitu pemakaian exhaust dan sistem ventilasi untuk meminimalkan bahaya debu atau gas. Walau demikian pengendalian dengan sistem engineering control memerlukan dana yang besar.
  2. Administrative control, yakni dengan bikin beragam prosedur kerja termasuk kebijakan manajemen dalam implementasi K3. Maksudnya yaitu agar pekerja bekerja sesuai sama instruksi yang telah diputuskan sehinggan kecelakaan kerja dapat dijauhi. Termasuk di dalam adminstarsi control yakni dengan sediakan alat pelindung diri (APD) atau personnel pertective equipment (PPE) untuk setiap pekerja yang terpajan dengan bahaya ditempat kerja.
  3. Metoda lain yang bisa dipakai untuk ingindalian bahaya yaitu Inherently Safer Alternative Method, di mana metoda ini memiliki empat kiat ingindalian bahaya, yakni :
  • Minimize ; yakni lewat cara meminimalisir tingkat bahaya dari sumbernya lewat cara kurangi jumlah penggunaan atau volume penyimpanan dan sistem.
  • Substitue ; yakni lewat cara ganti bahan yang beresiko dengan yang kurang beresiko. Misalnya hádala memakai metoda water base sebagai pengganti solven base. Water base lebih aman dan ramah lingkungan dibanding solven base.
  • Moderate ; Kurangi bahaya lewat cara turunkan konsentrasi bahan kimia yang dipakai. Misalnya yaitu memakai bahan kimia dengan konsentrasi yang lebih rendah hingga tingkat bahaya pajanannya jadi lebih rendah.
  • Simplify ; Kurangi bahaya lewat cara bikin prosesnya jadi lebih simpel hingga lebih mudah di control.

Semua metoda ingindalian itu dapat dilakukan dengan cara berbarengan, karena tak ada satu metodapun yang benar-benar dapat turunkan bahaya dan kemungkinan sampai pada posisi 0, artinya beberapa pekerja masihlah besar peluangya terpajan pada bahaya di tempat kerja. Karenanya sebagai pertahanan dan perlindungan paling akhir untuk pekerja yaitu dengan memakai APD.

Berdasar pada Undang-Undang RI No. 1 th. 1970 kalau pengurus atau pimpinan tempat kerja berkewajiban sediakan alat pelindung diri (APD/PPE) untuk beberapa pekerja dan beberapa pekerja berkewajiban memakai APD/PPE dengan tepat dan benar. Maksud dari aplikasi Undang- Undang ini yaitu membuat perlindungan kesehatan pekerja itu dari resiko bahaya ditempat kerja. Type APD/PPE yang diperlukan dalam beragam kegiatan kerja di industri sangat bergantung pada kegiatan yang dilakukan dan type bahaya yang terkena.

Kesadaran beberapa pekerja akan pemakaian alat pelindung diri (APD) dalam bekerja nyatanya masihlah sangat rendah. Berdasar pada temuan dari survey yang penulis kerjakan mulai sejak th. 2004 hingga saat ini sangat banyak diketemukan kekeliruan dan kekurangan dalam memakai APD di beberapa perusahaan baik lokal ataupun yang bertaraf international (saksikan grafik). Ada dua aspek terpenting yang melatar belakangi permasalahan ini yakni rendahnya tanggung jawab management pada keselamatan dan kesehatan pekerja dan rendahnya tingkat kesadaran beberapa pekerja dalam memakai APD.

Manajemen sebagai wakil dari pemegang saham atau pemilik perusahaan sepenuhnya bertanggungjawab atas keselamatan dan kesehatan pekerja ditempat kerja dengan sediakan tempat kerja yang aman dan alat pelindung diri yang ideal. Tetapi sebenarnya manajemen perusahaan masihlah meletakkan keselamatan dan kesehatan pekerja diurutan bawah dari taraf prioritas dari suatu program perusahaan terlebih bila telah berhubungan dengan biaya keuangan. Sebagai efek dari hal itu beberapa pekerja hanya diberikan APD seadanya tanpa ada memperhitungkan tingkat bahaya ditempat kerja yang dihadapi sehari-hari, tidak memperoleh kursus yang memenuhi tentang keselamatan dan kesehatan kerja ditempat kerja dan bahkan juga ada perusahaan yang dengan cara berniat membodohi beberapa pekerja dengan menyampaikan pekerjaan yang mereka kerjakan tidak beresiko pada kesehatan pekerja atau tidak beresiko. Adabeberapa alasan classic yang selalu dikemukakan oleh pihak manajemen tehadap beberapa pekerja dalam penyediaan APD yakni :

  1. Anggarannya terlalu besar, keuangan perusahaan tidak dapat mendanainya.
  2. APD yang ada telah memenuhi karena banyak perusahaan lain juga memakai APD yang sama, Walau sesungguhnya APD itu tidak penuhi standard yang dipersyaratkan.
  3. Tingkat paparan masihlah di bawah nilai ambang batas (NAB).
  4. Tidak di merekomendasikan oleh induk perusahaan.
  5. Keadaan seperti ini telah berjalan bertahun-tahun dan tak ada permasalahan.

Dalam beragam survey yang dilakukan juga di dapatkan banyak perusahaan yang telah sediakan APD yang sangat baik buat beberapa pekerja, bahkan juga ada beberapa perusahaan yang sediakan APD terlalu berlebih atau over spec untuk beberapa pekerja. Tetapi permasalahan yang dihadapi oleh pihak manajemen yaitu rendahnya tingkat kesadaran beberapa pekerja dalam memakai APD dengan cara benar selama bekerja. Banyak pekerja yang main kucing-kucingan dengan supervisor atau manager dalam memakai APD. Dalam beberapa diskusi dengan beberapa pekerja dan berdasar pada observasi penulis diketemukan beberapa alasan akan rendahnya kesadaran beberapa pekerja akan pemakaian APD, yakni :

  1. Ketidak nyamanan dalam pemakaian APD selama bekerja. Ini adalah alasan yang paling banyak dikemukakan oleh beberapa pekerja. Ketidak nyamanan di sini salah satunya yaitu panas, berat, berkeringat atau lembab, sakit, pusing, sesak dsb.
  2. Merasa kalau pekerjaan itu tidak beresiko atau beresiko pada kesehatannya. Terlebih untuk beberapa pekerja yang telah bertahun-tahun melakukan pekerjaan itu.
  3. Kesalah pahaman pada manfaat APD akibat kurangnya pengetahuan akan manfaat dan manfaat APD.
  4. APD menggangu kelacaran dan kecepatan pekerjaan.
  5. Sulit memakai dan menjaga APD. Misalnya sepatu safety yang tidak sesuai standart.

Hal-hal lain yang juga diketemukan dalam survey ini yaitu pemakaian APD yg tidak tepat atau sesuai sama paparan bahaya yang dihadapi. Hal semacam ini dikarenakan kurangnya pengetahuan atau info mengenai APD dan type atau keadaan bahaya yang dihadapi. Banyak perusahaan yang jual APD tidak memberi info atau training yang ideal mengenai pemakaian, manfaat, type, aplikasi, perawatan APD dan efek kesehatan pengunaan APD.

Jika APD dipakai dengan cara benar dan sesuai sama spesifikasi yang di tentukan, maka tingkat kecelakaan dan sakit akibat kerja akan dikurangi. Penurunan tingkat kecelakaan dan sakit akibat kerja akan tingkatkan produktivitas kerja hingga perusahaan akan jadi lebih sehat. Untuk meraih hal semacam ini maka beberapa keadaan berikut harus tercukupi :

  1. Ada prinsip dari manajemen membuat perlindungan pekerja, satu diantaranya dengan sediakan APD yang sesuai sama standard.
  2. Ada kebijakan/prosedur/WI yang mengatur pemakaian APD untuk pekerja.
  3. Ada training dengan cara regular mengenai tatacara inginalan kemungkinan, pengendalian kemungkinan dan pemakaian APD.
  4. Ada program komunikasi untuk tingkatkan awareness pekerjang dalam memakai APD seperti regular meeting, poster, stiker dan singnage.
  5. Pekerja tahu dengan baik bahaya-bahaya yang ada ditempat kerja.
  6. Pekerja tahu dengan baik efek kesehatan dari pajanan bahaya-bahaya itu.
  7. Pekerja tahu dengan baik beberapa cara ingindalian bahaya itu.
  8. Pekerja memperoleh APD yang sesuai sama pajanan bahaya yang dihadapi.
  9. Pekerja dengan cara berkelanjutan dan benar memakai APD ketika melakukan pekerjaan.
  10. Pekerja memakai APD dengan cara tepat dan benar selama bekerja.

Tips Mencegah Kecelakaan Proyek Konstruksi

Kegiatan pelaksanaan proyek konstruksi terdapat kemungkinan terjadi kecelakaan tinggi, seringkali kita jumpai sebuah kecelakaan ringan seperti tertancap paku atau bahkan meninggal dunia karena keruntuhan. Hal semacam ini pasti merupakan hal yg tidak diinginkan, disatu sisi proses pembangunan diharapkan dapat selesai sesegera mungkin tetapi dari sisi kecelakaan juga ditekan seminimal mungkin hingga zero Accident dari awal sampai proyek selesai.

Di sini kita bahas beberapa usaha yang mungkin dapat dilakukan untuk sebagai cara menghindar kecelakaan proyek konstruksi.

Cara menghindar kecelakaan proyek konstruksi

  1. Memberikan tugas personil khusus yang bertanggungjawab memanajemen kecelakaan, kesehatan dan kebersihan lingkungan kerja atau umum dikatakan sebagai K3.
  2. Menempatkan rambu-rambu peringatan seperti awas benda jatuh, awas lobang void, awas listrik, dan rambu proyek lainya.
  3. Memakai alat keselamatan kerja sebagai pelindung diri seperti sepatu safety, sabuk pengaman, helm proyek dan penutup kuping sebagai pelindung dari nada bising mesin.
  4. Mengadakan penyuluhan sekerap mungkin dengan menyatukan semua tenaga kerja hingga dapat mengarahkan dan mengingatkan mengenai bahaya kecelakaan proyek dan himbauan agar waspada dalam bekerja.
  5. Berencana dengan baik setiap cara proses konstruksi, misalnya mengkalkulasi benda berat yang akan diangkat tower crane apakah masih tetap dalam batas kemampuan kekuatan beban angkat.
  6. Tutup lobang void dan berikan ralling sesaat dipinggirnya, pemasangan ralling juga dipasang pada ruang pinggir susunan gedung agar pekerja aman dari bahaya jatuh dari ketinggian.
  7. Mewajibkan dan memberikan tugas personil khusus untuk mengontrol pekerja apakah telah memakai alat pengaman diri dan bekerja tanpa ada terserang kemungkinan kecelakaan.
  8. Bersihkan ruang proyek sekerap mungkin, karena selain menyebabkan susana proyek mengasyikkan juga terlepas dari kemungkinan terserang benda-benda berantakan.
  9. Pada pekerjaan pengecoran beton harus dilakukan penelusuran terlebih dulu apakah bekisting telah terpasang kuat, dan sambungan besi tulangan telah benar.
  10. Bikin ruang khusus merokok agar pekerja tidak merokok asal-asalan yang bisa mengakibatkan bahaya kebakaran proyek.
  11. Menempatkan tabung APAR alat pemadam api enteng di tempat proyek yang punya potensi nampak kebakaran.
  12. Meletakan kabel sesaat proyek dengan rapi dan aman tidak berantakan.

Banyak hal-hal lain yang bisa dilakukan sebagai usaha menghindar terjadinya kecelakaan kerja di proyek konstruksi, pelu berbagai kreativitas dan inovasi untuk memikirkan setiap bahaya yang mungkin terjadi pada setiap item pekerjaan lalu menyiapkan beberapa hal yang bisa menolong keselamatan kerja, Selamat berkarya dan jagalah keselamatan diri dalam bekerja.